Komunitas budaya · Indonesia

Keo

Suku Keo (Ata Kéo) adalah kelompok etnis yang mendiami bagian tengah-selatan Pulau Flores, Indonesia. Mereka menghuni kawasan sekitar lereng Gunung Ebulobo bagian selatan, meliputi sebagian wilayah Boawae, Mauponggo, Gunung Koto di Keo Tengah, dan Kedi Diru di Nangaroro.

Profil budaya · adaptasi sumberWilayah terkait menurut Wikidata: Indonesia·Sumber per 2026-10-14

Dasar ringkasan: Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi 29883709. Keterangan mengikuti cakupan dokumentasi sumber.

Komunitas budaya · Jelajahi bidang ini · Rujukan, lisensi, dan batas pemeriksaan · Tautan ringkasan

Nama dan identitas

Keo · Suku Keo · Keo people

Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.

Identitas dan konteks kelompok#

Suku Keo (Ata Kéo) adalah kelompok etnis yang mendiami bagian tengah-selatan Pulau Flores, Indonesia. Mereka menghuni kawasan sekitar lereng Gunung Ebulobo bagian selatan, meliputi sebagian wilayah Boawae, Mauponggo, Gunung Koto di Keo Tengah, dan Kedi Diru di Nangaroro. Masyarakat Keo memiliki hubungan kekerabatan dengan etnis Nage yang berada di sebelah utaranya.

Rujukan bagian ini · revisi 29883709

Masa kolonial Belanda#

Di Kepulauan Sunda Kecil, beberapa penguasa lokal dengan sistem penguasa asli setempat yang dikenal dengan nama tetua adat (adathoofden atau mosalaki) dan pengawas atau pengatur tanah (grondvoogden atau ine tana ame watu) difungsikan oleh pemerintah kolonial. Hingga tahun 1910-an, pemerintah kolonial Belanda sering memandang Keo sebagai kawasan dengan masyarakat yang keras kepala, sulit diperintah, dikuasai, dan diatur. Kesan itu timbul karena di wilayah Keo pada masa itu telah terjadi 2 pemberontakan lokal, yakni pemberontakan yang dipimpin oleh Kaka Dupa di wilayah Tana Dea (1907) dan pemberontakan Lejo, yang dikenal dengan Lejo oorlog (1912) di bawah pimpinan Lewa Wula. Kolonial Belanda yang lazim menerapkan sistem divide et impera (membagi-bagi dan menguasai), di kawasan Keo menerapkan sistem yang dinamakan unifica et impera (menyatukan dan menguasai). Berhadapan dengan sikap non-kooperatif dari masyarakat Keo dan kebutuhan mendesak untuk menciptakan wilayah-wilayah administratif berdasarkan kesamaan budaya, bahasa, dan organisasi sosial lokal, maka pemerintah kolonial memperlakukan Keo sebagai bagian dari Nage, sambil mendaftarkan semua kampung di kawasan Keo dalam wilayah Nage sebagaimana tertera dalam laporan kolonial tahun 1910-an.

Pada 2 Maret 1918, disaksikan oleh gezagheber Ngada, Muwa Tunga mengambil sumpah (korte verklaring), lalu ditandatangani olehnya dan oleh para saksi. Di bawah kepemimpinan Muwa Tunga, landschap Keo dibagi atas 10 hamente dan dipimpin oleh masing-masing secundaire hoofden atau kepala mere. Hamilton mendaftar ke-10 hamente dengan masing-masing kepala mere sebagai berikut: Tonggo dengan kepala mere Pua Mera, Riti dengan kepala mere Goo Bhoko, Lewa dengan kepala mere Aja Mbaa, Wajo dengan kepala mere Aja Ari, Wuji dengan kepala mere Mere Muku, Pau Tola dengan kepala mere Ora Ari, Kota dengan kepala mere Ego Ari, Sawu dengan kepala mere Mite Ebu, Lejo dengan kepala mere Tado Toyo, dan Worowatu dengan kepala mere Seme Rau.

Rujukan bagian ini · revisi 29883709

Masa pemerintahan Indonesia#

Menurut struktur administrasi modern, wilayah Keo pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur, tertanggal 22 Februari 1962, bernomor PEM.66/1/2, nama Keo pada awalnya tetap dipertahankan sebagai nama dari sebuah Kecamatan dari enam Kecamatan di Kabupaten Ngada. Namun, setahun kemudian, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur yang baru, tertanggal 22 Juli 1963, bernomor PEM.66/1/32, kecamatan Keo dimekarkan menjadi 2 kecamatan, yakni Keo Barat dengan nama Mauponggo dan Keo Timur dengan nama Nangaroro. Lalu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur, bernomor PEM.9/2002, sebuah Kecamatan baru bernama Keo Tengah dibentuk, dengan wilayahnya mencakup 8 desa dari bagian timur Mauponggo yakni desa Keli, Lewa Ngera, Wajo, Koto Wuji Timur, Koto Wuji Barat, Mbae Nuamuri, Worowatu, dan Witu Romba Ua, serta ditambahkan dengan 3 desa dari bagian barat Nangaroro, yakni desa Koto Diru Mali, Lado Lima, dan Pau Tola.

Rujukan bagian ini · revisi 29883709

Sumber dan cakupan

Suku Keo

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-14.

Artikel tentang kelompok dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua anggota atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.

Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.

Q26242371 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2523784623. Identitas P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua anggota. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.

Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang

Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.

Baca metode penyusunan