Komunitas budaya · Indonesia

orang Komering

Suku Komering adalah salah satu suku bangsa asli Sumatera Selatan yang mendiami sepanjang aliran Sungai Komering. Tanah air suku Komering meliputi wilayah administrasi Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Ogan Ilir.

Profil budaya · adaptasi sumberWilayah terkait menurut Wikidata: Indonesia·Sumber per 2026-10-14

Dasar ringkasan: Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi 30028649. Keterangan mengikuti cakupan dokumentasi sumber.

Komunitas budaya · Jelajahi bidang ini · Rujukan, lisensi, dan batas pemeriksaan · Tautan ringkasan

Nama dan identitas

orang Komering · Kumoring · Kumoring people · Komering people · Suku Komering

Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.

Identitas dan konteks kelompok#

Suku Komering adalah salah satu suku bangsa asli Sumatera Selatan yang mendiami sepanjang aliran Sungai Komering. Tanah air suku Komering meliputi wilayah administrasi Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Ogan Ilir. Dewasa ini, populasi Komering dapat dijumpai dalam jumlah signifikan di Kota Palembang serta kabupaten-kabupaten lain di Sumatra Selatan. Sebagian pula telah berdiaspora dan menetap di kota-kota di Jawa, Kalimantan, hingga mancanegara.

Rujukan bagian ini · revisi 30028649

Etimologi#

Kata "Komering" mulai dipopulerkan oleh orang Belanda sebagai "khemering" yang berasal dari kata Kembiring dan juga berarti sejenis makhluk gaib, seperti meniru harimau. Sejauh ini, tidak ada dokumen yang ditemukan menghubungkan penyebutan Khemering oleh orang Belanda dengan makam Komering Singh. Meski sudah melekat nama Komering, tetapi sebagian orang beranggapan bahwa suku yang tinggal di sepanjang Sungai Komering lebih tepat disebut suku Semendawai (Saigantha et al., 2019).

Pada masa sebelum 600 M, ada suku di pedalaman Sumatera Selatan yang disebut suku Sakala Bhra (kuno), artinya ialah titisan Tuhan. Suku tersebut hidup di wilayah pegunungan sekitar Gunung Semuning dan lembah utara, daerah perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung. Suku ini terbagi 2 bagian kelompoknya, kelompok pertama tinggal di daerah sekitar Gunung Shiminnon, kemudian turun ke lembah utara hingga Lampung. Kemudian sebagian dari mereka turun ke daerah hilir di sepanjang sungai di bagian atas Sumatera Selatan, yang pada waktu itu disebut suku Samanda Di Way, artinya orang-orang yang mengikuti sungai dan akhirnya sampai di Minanga (kuno). Suku inilah yang kemudian menjadi asal muasal Suku Daya, Komering, Ranau dan suku-suku lainnya dalam kutipan Van Royen tahun 1927 (Astuti & Hidajat, 2021).

Rujukan bagian ini · revisi 30028649

Asal-usul#

Suku Komering berasal dari peradaban yang ada di lembah Bukit Barisan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), tepatnya di antara lereng Gunung Pesagi dan Gunung Seminung dekat tepian Danau Ranau. Pada awal abad masehi di lembah ini berdiri unit masyarakat yang bernama Suku Tumi. Sebelum berdirinya pemerintahan yang lebih tertata, orang-orang Suku Tumi dipimpin oleh kepala Suku yang bernama Buwai Tumi. Pada abad ke-3 Masehi Suku Tumi mendirikan tatanan sosial sederhana serupa dengan kerajaan yang bernama Sekala Brak.

Namun, apapun itu tentang teori etimologi mengenai istilah Sekala Brak, berpulang pada paradigma kajian masing-masing. Keragamanan teori etimologi menjadi kekayaan kajian akan peradaban Suku Tumi. Yang sudah bisa dipasti adalah pendiri Sekala Brak bernama Raja Buwai Tumi (William Marsden, Sejarah Sumatera, 2008). Suku Tumi sebelum berinteraksi dengan agama Hindu menganut kepercayaan lokal semacam animisme atau dinamisme. Suku Tumi mensucikan sebuah pohon bernama Lamasa atau Belasa Kepampang. Pohon ini memiliki dua (2) cabang, yaitu cabang nangka dan cabang sebukau, yang keduanya mengandung getah (R. Sudradjat, dkk., Sistem Pemajemukan Bahasa Lampung Dialek Abung, 1991). Apabila terkena getah cabang sebukau, akan terkena penyakit kulit dan akan sangat berbahaya jika dibiarkan. Akan tetapi penyakit tersebut akan sembuh jika diolesi oleh cabang nangka. Dua (2) cabang dengan dua (2) getah yang bertolak belakang dalam satu pohon inilah yang melatar belakangi Pohon Belasa Kepampang dikeramatkan oleh Suku Tumi.

Rujukan bagian ini · revisi 30028649

Sumber dan cakupan

Suku Komering

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-14.

Artikel tentang kelompok dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua anggota atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.

Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.

Q12517236 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2521188819. Identitas P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua anggota. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.

Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang

Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.

Baca metode penyusunan