Komunitas budaya · Belum dipetakan

Tionghoa Benteng

Orang Tionghoa Benteng (atau lebih dikenal dengan sebutan Cina Benteng atau Orang Benteng) adalah panggilan yang mengacu kepada masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang, Provinsi Banten. Nama "Tionghoa Benteng" berasal dari kata "Benteng", nama lama Kota Tangerang.

Profil budaya · adaptasi sumberWilayah belum dipetakan. Baca keterangannya dalam uraian sumber.·Sumber per 2026-10-14

Dasar ringkasan: Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi 30016079. Keterangan mengikuti cakupan dokumentasi sumber.

Komunitas budaya · Jelajahi bidang ini · Rujukan, lisensi, dan batas pemeriksaan · Tautan ringkasan

Nama dan identitas

Tionghoa Benteng · Benteng Chinese

Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.

Identitas dan konteks kelompok#

Orang Tionghoa Benteng (atau lebih dikenal dengan sebutan Cina Benteng atau Orang Benteng) adalah panggilan yang mengacu kepada masyarakat keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Tangerang, Provinsi Banten. Nama "Tionghoa Benteng" berasal dari kata "Benteng", nama lama Kota Tangerang.

Saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di Kota Tangerang di pinggir Sungai Cisadane.Difungsikan sebagai pos pengamanan untuk mencegah serangan dari Kesultanan Banten, benteng ini merupakan benteng terdepan pertahanan Belanda di Pulau Jawa.

Rujukan bagian ini · revisi 30016079

Sejarah#

Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 NI. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.

Warga Tionghoa Benteng sempat bersitegang dengan penduduk pribumi setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pada 23 Juni 1946, rumah-rumah etnis Tionghoa di Tangerang diobrak-abrik. Penduduk yang didukung oleh kaum Republik menjarah rumah-rumah warga Tionghoa Benteng. Bahkan, meja abu yang merupakan bagian dari ritual penghormatan leluhur tionghoa, ikut dicuri. Kemarahan penduduk pribumi dipicu seorang tentara NICA dari etnis Tionghoa menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda.

Rujukan bagian ini · revisi 30016079

Pakaian adat#

Pakaian adat suku Tionghoa Benteng merupakan perpaduan antara pakaian adat suku besar Tionghoa (yang didominasi suku Hokkian) dan pakaian adat suku Betawi. Pakaian adat prianya berupa baju koko hitam dan celana panjang, dengan topi yang khas yang mirip dengan caping. Sementara itu, pakaian adat wanitanya dinamakan hwa kun, yang berupa blus dan bawahan lengkap dengan hiasan kepala serta tirai penutup wajah. Namun, sering kali digunakan pula kebaya encim, dengan aksen kembang goyang sebagai hiasan kepala, yang menunjukkan pengaruh Betawi dalam pakaian tersebut.

Rujukan bagian ini · revisi 30016079

Kontribusi pada kolonialisme Belanda#

Tionghoa Benteng golongan kedua tersebut juga adalah proyek pemerintah kolonial Belanda, yaitu "One harmony between 3 races, under one loyalty to the Dutch colonial Empire". Proyek pemerintah kolonial ini adalah menggabungkan tiga bangsa, yaitu Tionghoa, Belanda, dan Sunda-Betaw i, menjadi satu etnis Peranakan mirip dengan Creolle di negara-negara jajahan Spanyol di Benua Amerika. Harapan nya "ras baru" ini hanya akan loyal terhadap pemerintah Belanda. Mereka berkontribusi besar terhadap kelangsungan kekuasaan kolonial Belanda di Tangerang, banyak dari mereka yang diangkat menjadi kapitein Tionghoa (House of Oey) pada era feodalisme tuan tanah di Tangerang, dan mereka sangat loyal terhadap Belanda. Pada saat Jepang menduduki Indonesia, mereka melawan Jepang dengan gagah berani walaupun akhirnya kalah.

Tangerang merupakan daerah terakhir yang dikuasai Belanda di pulau Jawa, daerah ini baru seluruhnya diserahkan kepada Republik pada awal tahun 1950. Orang-orang Tionghoa Benteng golongan kedua tersebut merasa sangat ketakuan saat Belanda meninggalkan Tangerang pada tahun 1950 dan menyerahkan kota itu kepada Republik. Kemudian terjadilah penyerangan dan perampasan terhadap orang-orang Tionghoa Benteng, banyak di antara mereka yang dulunya kaya sekarang menjadi miskin karena harta leluhur mereka dirampas. Bagi mereka, hidup lebih sejahtera selama pada zaman kolonial Belanda daripada setelah Tangerang masuk ke-dalam Republik Indonesia. Setelah penyerahan tahun 1950 tersebut, terjadi eksodus besar-besaran Tionghoa Benteng ke Belanda serta California dan Lousiana (Amerika Serikat).

Rujukan bagian ini · revisi 30016079

Sumber dan cakupan

Tionghoa Benteng

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-14.

Artikel tentang kelompok dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua anggota atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.

Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.

Q252099 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2543501006. Identitas P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua anggota. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.

Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang

Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.

Baca metode penyusunan