
Nama dan identitas
Bedaya · bedhaya
Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.
Identitas dan konteks budaya#
Bedaya (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪ, translit. Bedhaya) merupakan tarian klasik Jawa yang berkembang di lingkungan keraton sebagai bagian dari tradisi budaya kerajaan takhta Mataram. Tarian ini dibawakan dengan gerakan yang halus, tenang, dan cenderung bersifat kontemplatif, biasanya diiringi alunan gamelan yang sederhana dalam sebagian besar pertunjukannya. Penarinya umumnya perempuan, meskipun ada pula versi bedhaya kakung yang diperankan oleh laki-laki. Koreografi bedaya sering kali terinspirasi dari gagasan atau pengalaman raja yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tari simbolis. Tarian ini lazim dipentaskan dalam upacara resmi keraton, seperti peringatan kenaikan takhta raja (tingalan jumenengan dalem). Jumlah penari berbeda-beda tergantung asalnya, yaitu sembilan orang untuk tradisi dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sedangkan dari Mangkunegaran dan Pakualaman biasanya terdiri dari tujuh penari.
Rujukan bagian ini · revisi 29094057Definisi#
Tari Bedhaya berasal dari kata ambudhaya, yang menurut Wedha Pradangga berarti “jajar-jajar sami beksa sarta tinabuhan ing gangsa Lokananta (gending kemanak) binarung ing kidung sekar kawi utawa sekar ageng.” Dalam pengertian praktis, Bedhaya adalah tarian yang dilakukan dalam posisi berbaris, diiringi gamelan Lokananta serta nyanyian Sekar Kawi atau Sekar Ageng. Tari ini bukan ditujukan untuk tontonan umum, melainkan merupakan bagian dari upacara atau atribut kerajaan Jawa, khususnya di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Di keraton, Bedhaya ditarikan oleh sembilan penari lajang dengan gerakan, tata rias, dan kostum yang seragam. Tarian ini menyampaikan suatu cerita, umumnya bertema perang atau percintaan, dengan cara yang abstrak. Untuk memahami alur cerita, seseorang perlu mengenal cakepan sindhenan, pola lantai (gawang), serta simbol-simbol dalam koreografi dan kostum. Ekspresi wajah penari Bedhaya bersifat tetap dan statis nyaris seperti topeng, berbeda dengan dramatari yang menampilkan ekspresi wajah untuk mendukung karakter tokoh.
Rujukan bagian ini · revisi 29094057Simbol#
Bedhaya memiliki nilai ritual dan dikaitkan dengan tradisi keraton. Di Surakarta, salah satu bentuk yang dikenal adalah Bedhaya Ketawang, sedangkan di Yogyakarta dikenal sebagai Bedhaya Semang. Pementasan tari ini melibatkan penari yang masih lajang, berada dalam kondisi tertentu, serta menjalani rangkaian persiapan sebelum tampil. Praktik ini berkaitan dengan aspek spiritual dalam pelaksanaannya, yang dalam beberapa kajian dihubungkan dengan tradisi semedi, sebagaimana tercatat dalam kebiasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang melakukan semedi dalam konteks pencarian petunjuk. Prabawa menafsirkan angka sembilan sebagai simbol mikrokosmos manusia, ditandai oleh organ tubuh yaitu jantung, kepala, dua lengan, dua tungkai, leher, dada, dan kelamin, sehingga setiap penari memiliki peran simbolis sendiri. Dalam Bedhaya Yogyakarta, penari diberi nama endhel, bathak, jangga, apit ngajeng, apit wingking, dhadha, endhel wedalan ngajeng, endhel wedalan wingking, dan buntil, sementara di Surakarta nama-nama sedikit berbeda, yaitu bathak, endhel, endhel ajeg, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, gulu, dada, dan buncit.
Rujukan bagian ini · revisi 29094057Beberapa bedaya#
Bedaya tergolong sebagai tarian klasik keraton yang biasanya diajarkan dalam pendidikan tari dan dibawakan oleh penari yang sudah berpengalaman. Dalam beberapa jenis bedaya, terdapat ketentuan khusus bagi penarinya, seperti harus masih perawan, tidak sedang mengalami menstruasi, serta menjalani ritual tertentu seperti puasa sebagai bagian dari persiapan sebelum pementasan.
Tarian ini adalah pusaka Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan ditarikan oleh sembilan penari putri setiap perayaan jumenengan dalem (wisuda/pelantikan) Sri Susuhunan di Surakarta. Konon tarian ini diciptakan oleh Ingkang Sinuhun Sultan Agung Prabhu Hanyakrakusuma. Durasi awal tarian ini adalah dua setengah jam kemudian dipadatkan menjadi sekitar satu setengah jam. Tari Bedhaya Ketawang mengisahkan perjumpaan antaraPanembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian menghasilkan sebuah ikatan janji di antara keduanya untuk saling melindungi dan menjaga keberlangsungan masing-masing kerajaan.
Rujukan bagian ini · revisi 29094057Sumber dan cakupan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-15.
Artikel tentang entitas budaya dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua variasi, pelaku, atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.
Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.
Q2289286 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2457944200. Klasifikasi P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua pelaku. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.
Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang
Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.
Baca metode penyusunan