Pertunjukan dan permainan · Belum dipetakan

Gamelan sekaten

Gamelan sekaten adalah jenis gamelan Jawa yang hanya dimainkan dalam pergelaran upacara adat Sekaten yang diselenggarakan di dua keraton pecahan Kesultanan Mataram, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kesunanan Surakarta Hadiningrat. Upacara adat tersebut diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Islam Muhammad.

Profil budaya · adaptasi sumberWilayah belum dipetakan. Baca keterangannya dalam uraian sumber.·Sumber per 2026-10-15

Dasar ringkasan: Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi 29934099. Keterangan mengikuti cakupan dokumentasi sumber.

Pertunjukan dan permainan · Jelajahi bidang ini · Rujukan, lisensi, dan batas pemeriksaan · Tautan ringkasan

Nama dan identitas

Gamelan sekaten · gamelan sekatèn · sekati · gamelan sekaten

Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.

Identitas dan konteks budaya#

Gamelan sekaten adalah jenis gamelan Jawa yang hanya dimainkan dalam pergelaran upacara adat Sekaten yang diselenggarakan di dua keraton pecahan Kesultanan Mataram, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kesunanan Surakarta Hadiningrat. Upacara adat tersebut diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Islam Muhammad. Pertama kali dikembangkan pada zaman Kesultanan Demak, gamelan tersebut dijadikan sebagai media dakwah yang digagas oleh Wali Sanga agar orang Jawa bersedia menganut agama Islam.

Rujukan bagian ini · revisi 29934099

Kesultanan Demak#

Dalam cerita lisan turun-temurun di kalangan orang Jawa, dakwah Islam dengan menggunakan gamelan telah dilakukan oleh Wali Sanga pada abad ke-16. Sebelumnya, orang Jawa telah mengenal Hindu dan Buddha, serta telah mengenal gamelan sebagai bagian dalam upacara adatnya. Masalah inilah yang menghambat Wali Sanga untuk melaksanakan tugasnya, yaitu meng-Islamkan Nusantara. Dalam sebuah musyawarah yang diselenggarakan oleh Dewan Wali Sanga Kesultanan Demak, Sunan Kalijaga yang kala itu hadir dalam majelis mengemukakan gagasan untuk menggunakan gamelan sebagai media dakwah.

Untuk mewujudkan tujuan itu, perangkat gamelan sekaten dibuat lebih besar daripada gamelan biasa, sehingga menghasilkan suara yang sangat keras dan nyaring. Menurut Dewan Wali Sanga, dakwah dengan pendekatan kultural semacam ini diyakini akan menjadi langkah efektif untuk meng-Islamkan orang Jawa.

Rujukan bagian ini · revisi 29934099

Kesultanan Mataram#

Pada masa berdirinya Kesultanan Mataram, tidak ada keterangan mengenai keberadaan gamelan Sekaten. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa dua raja pertama Mataram, Panembahan Senopati dan Panembahan Seda Krapyak, tidak menggunakan gelar Sultan atau Susuhunan, melainkan panembahan yang kedudukannya berada di bawah raja. Sementara gamelan sekaten merupakan pusaka raja. Akibatnya, keduanya tidak menggunakan gamelan tersebut sebagai simbol keagungan.

Begitu Hanyakrakusuma naik tahta dengan nama Sultan Agung, ia memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi Sekaten seperti zaman Kesultanan Demak dahulu. Ia memerintahkan tukang gamelan istana untuk membuatkan sebuah gamelan "baru" yang memiliki karakter suara yang sama dengan gamelan sekaten Demak. Gamelan tersebut diberi nama Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari. Tahun produksi gamelan tersebut ditandai dengan sengkalan memet berupa ukiran nanas dan buah-buahan dalam satu wadah. Sengkalan itu berbunyi: "rerenggan woh-wohan tinata ing wadhah", yang bermakna 1566 Jawa, atau sekitar 1644 Masehi (setahun sebelum Sultan Agung meninggal).

Rujukan bagian ini · revisi 29934099

Waktu permainan gamelan#

Gamelan sekaten ditabuh selama 24 jam selama sepekan sejak miyos hingga kondur gangsa. Keraton Surakarta terus mempertahankan tradisi ini, sedangkan Keraton Ngayogyakarta membatasi waktu permainan hingga pukul 00.00 sejak tahun 1970. Setiap kali gamelan ditabuh, orang-orang di sekitarnya membakar kemenyan dan menaburkan bunga-bunga. Tabuhan gamelan dijeda ketika waktu muazin mengumandangkan azan hingga pelaksanaan salat berjemaah dan majelis taklim di Masjid Agung selesai. Ulama yang saat itu sedang bertugas di masjid kemudian mulai berdakwah. Materi dakwah yang disampaikan adalah dasar-dasar beragama Islam, yaitu memaknai dua kalimat syahadat. Bagi masyarakat yang benar-benar ingin masuk Islam, para ulama segera menuntun mereka dengan mengucap syahadat. Dengan banyaknya orang yang disyahadatkan, maka keramaian tersebut dikenal dengan istilah syahadatain, yang kemudian berubah pengucapannya menjadi sekaten.

Rujukan bagian ini · revisi 29934099

Sumber dan cakupan

Gamelan sekaten

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-15.

Artikel tentang entitas budaya dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua variasi, pelaku, atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.

Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.

Q5520010 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2407708721. Klasifikasi P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua pelaku. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.

Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang

Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.

Baca metode penyusunan