
Nama dan identitas
Gandrung Banyuwangi · Tari Gandrung · Gandrung
Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.
Identitas dan konteks budaya#
Gandrung Banyuwangi adalah salah satu jenis tarian tradisional yang berasal dari Banyuwangi. Kesenian ini merupakan pengembangan dan penggabungan dari kesenian Jathilan Ponorogo dan Tayub Semarangan.
Rujukan bagian ini · revisi 29821471Baca teks sumber bahasa Indonesia
Gandrung Banyuwangi adalah salah satu jenis tarian tradisional yang berasal dari Banyuwangi. Kesenian ini merupakan pengembangan dan penggabungan dari kesenian Jathilan Ponorogo dan Tayub Semarangan.[1][2]
Asal istilah#
Kata "gandrung" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Banyuwangi yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat yang digunakan pendatang dari sepasang suami istri dari Ponorogo dan Semarang di Tanah Banyuwangi.
Rujukan bagian ini · revisi 29821471Pertunjukan Gandrung Banyuwangi#
Tarian Gandrung Banyuwangi pada awalnya dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat pasca dilakukannya panen. Kesenian ini masih satu genre dengan Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan Gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki sebagai Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Rujukan bagian ini · revisi 29821471Sejarah#
Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabatnya hutan “Tirtagondo” (Tirta Arum) untuk membangun ibu kota Blambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit yang dilantik pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulu Pangpang.
Dengan dibukanya lahan baru menjadikan Banyuwangi banyak pendatang di antaranya Midin dari Ponorogo dan Raminah dari Semarang yang kemudian bertemu dan menikah di Cungking, Banyuwangi. Karena menempati lahan baru, sehingga dibutuhkan penyemangat hidup dan doa, maka Midin yang pernah menjadi Gemblak menarikan Jathil di Ponorogo dan Raminah yang pernah menjadi Penari ledek pada Tayub di Semarang, maka dibuatlah kesenian baru pada tahun 1883 yang memadukan Jathilan dan Ledek Tayub yang menjadi Gandrung sebagai ucapan sukur untuk mencintai lahan baru untuk tempat tinggal dan berkerja.
Rujukan bagian ini · revisi 29821471Sumber dan cakupan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-15.
Artikel tentang entitas budaya dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua variasi, pelaku, atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan. Pesan galat tampilan dan sisa penanda format dibersihkan; teks asal dipertahankan untuk pemeriksaan.
Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.
Q797450 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2460281697. Klasifikasi P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua pelaku. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.
Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang
Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.
Baca metode penyusunan