
Nama dan identitas
orang Biak · Biak people · Suku Biak
Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.
Identitas dan konteks kelompok#
Suku Biak berasal dari kelompok etnis yang berasal dari Kepulauan Biak di Teluk Cenderawasih, tepat di lepas pantai utara Pulau Papua. Masyarakat Biak memiliki beberapa sub-suku, seperti Aimando, Betew, Doreri, Kafdaron, Karon, Usba, Wardo, dan Kaipuri yang kebanyakan telah bermigrasi serta menetap di pesisir utara Papua dan Kepulauan Raja Ampat sejak abad ke-15.
Rujukan bagian ini · revisi 29883657Etimologi#
Penamaan Biak sendiri diawali zaman pemerintahan kolonial Belanda pada abad ke-17, orang Belanda memberi nama kepulauan Biak-Numfor dengan sebutan Schouten Eilanden. Ada juga yang menyebutnya Numfor, Mafor, Wiak, atau Vyak. Fonem [w] pada kata "wiak" sebenarnya berasal dari fonem [v] yang kemudian berubah menjadi [b] sehingga muncul kata "Biak", sedangkan kata Biak-Numfor, dengan tanda garis mendatar penghubung dua kata itu, dipakai secara resmi untuk menamakan daerah dan penduduk yang mendiami pulau-pulau yang terletak di sebelah utara Teluk Cenderawasih.
Keterangan cerita lisan rakyat berupa mite, menceritakan bahwa nama Biak berasal dari warga klan Burdam yang meninggalkan Pulau Biak akibat pertengkaran mereka dengan warga klan Mandowen. Menurut cerita itu, warga klan Burdam memutuskan berangkat meninggalkan Pulau Warmambo (nama asli Pulau Biak) untuk menetap di suatu tempat yang letaknya jauh sehingga Pulau Warmambo hilang dari pandangan mata. Ketika mereka berangkat meninggalkan pulau sesekali menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo masih tampak di atas permukaan laut. Kondisi ini menyebabkan mereka berkata, "v'iak wer" atau "v'iak", artinya 'ia muncul lagi'. Kata "v'iak" inilah yang kemudian dipakai oleh mereka yang pergi untuk menamakan Pulau Warmambo.
Rujukan bagian ini · revisi 29883657Asal-usul#
Suku Biak yang mendiami Kepulauan Biak dikenal sebagai penjelajah lautan yang tangguh. Sama seperti kemampuan suku Bugis, mereka menjelajah lautan dari Kepulauan Maluku, Sulawesi, Jawa, hingga ke Semenanjung Malaka. Penjelajahan suku Biak ini dilakukan karena motif letak geografis yang kurang menghasilkan secara ekonomi, lahan yang kurang subur sehingga terjadinya kekurangan sumber pangan, selain itu ada juga alasan persaingan atau korfandi, yaitu adanya perselisihan antar suku, serta adanya perselisihan tata adat dalam suku Biak. Namun hal yang paling mendorong suku Biak menjelajah adalah karena dorongan kebutuhan bahan pangan yang pada saat itu terjadi kemarau berkepanjangan di Biak, berawal berlayar di sekitar Teluk Cenderawasih hingga ke Kepulauan Raja Ampat. Karena ketangguhannya, mereka menguasai aspek perdagangan dan politik di wilayah pesisir Papua bagian utara. Bukti-bukti kekuasaan suku Biak ini dapat dilihat dari penamaan beberapa kota di pesisir utara Papua yang menggunakan kata dalam bahasa Biak, antara lain Manokwari dari kata mnuk war yang artinya "kampung tua", serta Sorong yang berasal dari kata soren.
Aktivitas berdagang suku Biak menggunakan sistem kongsi dagang antar sahabat yang disebut manibobi, yaitu dengan cara berlayar dan berdagang keliling. Komoditas yang mereka dagangkan antara lain sagu, kulit kayu mesoyi, burung cenderawasih, dan para budak. Mereka menjajakan berbagai komoditas ke beberapa gugusan kepulauan Yapen-Waropen, Teluk Wondama, dan Teluk Dore, Manokwari, Amberbaken, hingga meluas hingga ke berbagai perairan Nusantara. Hubungan dagang suku Biak juga terjalin dengan para pelaut dari Ternate, Tidore, Halmahera, Flores, Gebe, Sulawesi, Buton, Seram, dan Tiongkok. Sebagai hasil kongsi dagang tersebut, para pelaut suku Biak mendapatkan barang-barang berupa porselin dari Tiongkok, manik-manik, parang, tombak besi, gelang dari besi atau logam, serta berbagai jenis kain dari daerah dan beberapa daerah yang disinggahi. Bahkan para pelaut suku Biak pada zaman kolonial Belanda dikenal dengan sebutan Papoesche Zeerovers yang artinya 'para bajak laut Papua'. Mereka berlayar menggunakan perahu layar tradisional wai roon yang biasanya digunakan untuk perang dengan suku-suku lain dan menangkap budak-budak.
Rujukan bagian ini · revisi 29883657Sumber dan cakupan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-14.
Artikel tentang kelompok dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua anggota atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.
Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.
Q65210148 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2555192472. Identitas P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua anggota. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.
Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang
Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.
Baca metode penyusunan