Komunitas budaya · Indonesia

orang Ngaju

Suku Dayak Ngaju (Biaju) adalah suku asli yang mendiami provinsi Kalimantan Tengah. Suku Ngaju merupakan sub etnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah yang persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas dan di kabupaten lainnya di seluruh wilayah Kalimantan Tengah dapat ditemui suku Ngaju.

Profil budaya · adaptasi sumberWilayah terkait menurut Wikidata: Indonesia·Sumber per 2026-10-14

Dasar ringkasan: Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi 29925354. Keterangan mengikuti cakupan dokumentasi sumber.

Komunitas budaya · Jelajahi bidang ini · Rujukan, lisensi, dan batas pemeriksaan · Tautan ringkasan

Nama dan identitas

orang Ngaju · Ngaju · Ngaju people · Suku Dayak Ngaju

Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.

Identitas dan konteks kelompok#

Suku Dayak Ngaju (Biaju) adalah suku asli yang mendiami provinsi Kalimantan Tengah. Suku Ngaju merupakan sub etnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah yang persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas dan di kabupaten lainnya di seluruh wilayah Kalimantan Tengah dapat ditemui suku Ngaju. Suku Ngaju secara administratif merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 27,3% dari penduduk Kalimantan Tengah, tetapi suku Ngaju digabung ke dalam suku Dayak dalam sensus 2010.

Berdasarkan sensus penduduk yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik RI pada tahun 2020, orang Ngaju (Dayak Ngaju) berjumlah 650.000 jiwa atau 0,16 % dari penduduk Indonesia pada saat itu. Pada sensus tahun 2000 tersebut Dayak Ngaju disensus secara terpisah dengan Suku Dayak Katingan dan Suku Dayak Bakumpai.

Rujukan bagian ini · revisi 29925354

Etimologis#

Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur pada masa-masa awal terutama pada Masyarakat Banjar menyebut mereka dengan sebutan Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras 1968: 336). Menurut Hikayat Banjar, Sungai Kahayan dan Kapuas sekarang ini disebut dengan nama sungai Biaju yaitu Batang Biaju Basar, dan Batang Biaju Kecil. Orang yang mendiaminya disebut Orang Biaju Besar dan Orang Biaju Kecil. Sedangkan sungai Murong (Kapuas-Murong) sekarang ini disebut dengan nama Batang Petak (lihat Ras 1968: 314). Pulau Petak yang merupakan tempat tinggal orang Ngaju disebut Biaju (Ras 1968: 408, 449).

Rujukan bagian ini · revisi 29925354

Kepercayaan & Kebudayaan#

Kaharingan adalah agama asli suku Dayak di Pulau Kalimantan. Agama Kaharingan sudah ada sebelum agama lainnya masuk ke Kalimantan. Agama Kaharingan mempunyai simbol tersendiri yakni Batang Garing yang berarti pohon kehidupan. Simbol Batang Garing ini sudah tidak asing bagi masyarakat Dayak karena sering dijumpai pada banyak bangunan di Kalimantan Tengah. Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, juga dikenal dengan istilah danum kaharingan (air kehidupan), yang artinya agama Kaharingan ini akan terus ada bagai air yang mengalir, tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Kaharingan disebut Ranying Hatalla. Suku Dayak Ngaju pernah mempunyai peradaban Kaharingan pada zaman dulu, yaitu pada zaman Kerajaan Tanjung Pematang Sawang dengan ratunya Nyai Undang. Banyak monumen atau tempat di Kalimantan Tengah di masa sekarang yang terinspirasi dari sejarah Kerajaan bercorak agama Kaharingan ini, seperti nama "Tambun Bungai" yang diabadikan sebagai julukan provinsi Kalimantan Tengah dan sebagai nama perguruan tinggi, lalu "Sanaman Mantikei" juga diabadikan sebagai nama lapangan, stadion dan nama kecamatan, serta masih ada nama tokoh lainnya di Kerajaan Tanjung Pematang Sawang yang dijadikan nama tugu di Kalimantan Tengah.

Agama Kaharingan diperkenalkan kepada publik oleh Tjilik Riwut pada tahun 1944, saat ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai salah satu agama resmi negara Indonesia, tetapi ditolak oleh pemerintah Indonesia dengan alasan umat Kaharingan belum tersebar di setiap pulau/daerah berdasarkan sensus penduduk di Indonesia. Pemerintah Indonesia menganggap Kaharingan hanya bersumber dari tradisi Suku Dayak saja, sehingga Kaharingan tidak dianggap sebagai agama pada saat itu. Seiring bergantinya jaman, penganut Kaharingan mengalami banyak hambatan saat ingin menempuh pendidikan yang layak, susah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), maupun sulit terlibat dalam Politik akibat terkendala oleh syarat yang mengharuskan masyarakat untuk menganut Agama yang resmi diakui oleh Negara Indonesia. Oleh sebab itu para penganut Kaharingan berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan pada masa orde baru, tepatnya pada 20 April 1980. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan hanya karena kesamaan ritualnya, tetapi juga karena Hindu merupakan salah satu agama tertua di Kalimantan.

Rujukan bagian ini · revisi 29925354

Sumber dan cakupan

Suku Dayak Ngaju

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2026 · diakses 2026-10-14.

Artikel tentang kelompok dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua anggota atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.

Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.

Q7021886 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2536071717. Identitas P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua anggota. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.

Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang

Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.

Baca metode penyusunan