
Nama dan identitas
Hidangan Romawi kuno · Ancient Roman cuisine
Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.
Identitas dan konteks budaya#
Hidangan Romawi kuno mengalami transformasi signifikan sepanjang sejarah peradaban ini. Kebiasaan makan masyarakat Romawi kuno banyak dipengaruhi oleh perubahan politik yang mereka alami, mulai dari sistem kerajaan, republik hingga akhirnya menjadi kekaisaran. Selain itu, interaksi perdagangan dengan bangsa lain dan perluasan wilayah yang masif juga berperan besar dalam memperkenalkan beragam makanan baru, tradisi kuliner di setiap provinsi, serta beragam teknik memasak kepada bangsa Romawi.
Pada awalnya, perbedaan makanan antar kelas sosial di zaman Romawi kuno tidaklah besar, tetapi kemudian kesenjangan tersebut menjadi semakin membesar seiring berkembangnya kekaisaran.
Rujukan bagian ini · revisi 27683662Arkeologi#
Kebanyakan makanan organik biasanya membusuk seiring waktu. Namun, abu dan tulang hewan sering kali memberikan petunjuk penting bagi para arkeolog untuk memahami pola makan masyarakat Romawi kuno. Sebagai contoh, fosil fitolit yang ditemukan di sebuah pemakaman di Tarragona, Spanyol. Di Colchester, buah ara impor berhasil terawetkan dalam kondisi hangus saat Boudica dan pasukannya membakar sebuah toko milik orang Romawi. Di Herculaneum, sisa-sisa kacang arab dan mangkuk berisi buah-buahan masih utuh setelah terkubur oleh letusan gunung Vesuvius yang menghancurkan kota tersebut pada tahun 79 M. Penemuan lain di saluran pembuatan kota juga menunjukkan banyak sisa-sisa tulang ikan kecil, duri bulu babi, dan tanaman yang mengalami mineralisasi.
Selain itu, para arkeolog berhasil mengidentifikasi berbagai jenis tanaman yang dikonsumsi pada masa itu, termasuk tanaman yang telah diidentifikasi, termasuk, adas sowa, ketumbar, flaks, lentil (miju-miju), kubis, tanaman opium, aneka kacang-kacangan, buah-buahan, serta polong-polongan lainnya, dan berbagai jenis ikan dan kerang. Di Pompeii, penemuan berupa anggur, keju, roti dan kue kering yang dulunya dikubur di taman halaman peristilium sebagai persembahan kepada dewa rumah tangga, Lares.
Rujukan bagian ini · revisi 27683662Hidangan sehari-hari#
Secara tradisional, sarapan di masa Romawi kuno disebut sebagai ientaculum yang disajikan saat dini hari. Sementara pada siang hingga awal sore, mereka menghidangkan cena, perlahan-lahan ditinggalkan. Sebagai gantinya, makan siang yang disebut prandium berubah menjadi santapan ringan untuk menahan rasa lapar hingga waktu cena. Versi paling sederhana dari puls terbuat dari emmer, air, garam dan lemak. Sementara variasi yang lebih mewah dibuat dengan minyak zaitun, dan disantap bersama berbagai sayuran jika tersedia. Adapun untuk orang-orang kaya umumnya mereka memakan bubur mereka dengan telur, keju, dan madu dan kadang-kadang disajikan dengan daging atau ikan.
Selama periode Republik, cena berkembang menjadi dua hidangan, yaitu hidangan utama dan hidangan penutup dengan buah dan boga bahari (misalnya moluska dan udang). Kemudian pada akhir Republik, biasanya cena disajikan dalam tiga bagian: hidangan pembuka (gustatio), hidangan utama (primae mensae), dan hidangan penutup (secundae mensae).
Rujukan bagian ini · revisi 27683662Makanan dan bahan-bahan#
Koloni Romawi menyediakan banyak makanan bagi kota Roma. Seperti ham dari Belgia, tiram dari Bretonia, garum dari Mauretania, daging hewan buruan liar dari Tunisia, silphium (laser) dari Kirenaika, bunga dari Mesir, selada dari Kapodakia, dan ikan dari Pontus.
Pola makan Romawi kuno mencakup banyak bahan makanan yang kini menjadi bagian penting masakan Italia modern. Plinius Tua mencatat lebih dari 30 jenis pohon zaitun, 40 jenis buah pir, buah ara (baik yang asli maupun hasil impor dari Afrika dan provinsi bagian timur), dan berbagai macam sayuran. Beberapa jenis sayuran tersebut sudah tidak ada lagi di dunia modern, sementara yang lainnya telah mengalami perubahan yang signifikan. Misalnya, wortel dengan warna-warna yang berbeda saat itu banyak dikonsumsi, tetapi mereka tidak mengonsumsi wortel yang berwarna oranye. Selain itu, banyak ragam jenis sayuran yang dibudidayakan dan dikonsumsi, termasuk seledri, bawang putih, beberapa umbi bunga, kubis dan brasila lainnya (seperti kubis keriting dan brokoli), selada, andewi, bawang bombay, daun bawang, asparagus, lobak, lobak cina, ubi jalar, wortel, bit, kacang hijau, lobak Swiss, sayuran daun (green fields), kardun, zaitun, dan mentimun. .Bayam dan terong (aubergine), misalnya, baru diperkenalkan kemudian melalui dunia Arab.
Rujukan bagian ini · revisi 27683662Sumber dan cakupan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2025 · diakses 2026-10-15.
Artikel tentang entitas budaya dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua variasi, pelaku, atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.
Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.
Q1368949 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2502233008. Klasifikasi P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua pelaku. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.
Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang
Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.
Baca metode penyusunan