Benda budaya · Indonesia

tumpeng

Tumpeng atau nasi tumpeng (bahasa Jawa: ꦱꦼꦒꦠꦸꦩ꧀ꦥꦼꦁ, translit. sêga tumpêng) adalah hidangan yang disajikan pada upacara adat masyarakat Suku Jawa yang penyajian nasinya dibentuk kerucut dan ditata bersama dengan lauk-pauknya.

Profil budaya · adaptasi sumberWilayah terkait menurut Wikidata: Indonesia·Sumber per 2026-10-15

Dasar ringkasan: Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi 28696330. Keterangan mengikuti cakupan dokumentasi sumber.

Benda budaya · Jelajahi bidang ini · Rujukan, lisensi, dan batas pemeriksaan · Tautan ringkasan

Nama dan identitas

tumpeng · Nasi tumpeng · Tumpeng

Adaptasi sumber terbuka. Uraian diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi. Identitas, lisensi, dan kelengkapan diperiksa secara otomatis. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat.

Identitas dan konteks budaya#

Tumpeng atau nasi tumpeng (bahasa Jawa: ꦱꦼꦒꦠꦸꦩ꧀ꦥꦼꦁ, translit. sêga tumpêng) adalah hidangan yang disajikan pada upacara adat masyarakat Suku Jawa yang penyajian nasinya dibentuk kerucut dan ditata bersama dengan lauk-pauknya. Olahan nasi yang dipakai umumnya berupa nasi kuning, nasi putih biasa, atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia sudah mengenal kegiatan ini secara umum.

Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah berbentuk bundar tradisional yang terbuat dari anyaman bambu) yang telah dialasi daun pisang.

Rujukan bagian ini · revisi 28696330

Sejarah dan Tradisi#

Masyarakat Suku Jawa memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting, seperti perayaan kelahiran atau ulang tahun serta berbagai acara syukuran lainnya. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" merupakan akronim dalam bahasa Jawa: yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya "Buceng", dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra' ayat 80: "Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan".

Rujukan bagian ini · revisi 28696330

Lauk-pauk#

Tidak ada aturan yang mutlak terkait lauk-pauk pendamping nasi tumpeng. Namun, beberapa lauk-pauk yang biasa menyertainya antara lain adalah perkedel, abon, kedelai goreng, telur dadar/goreng, mentimun yang dipotong melintang, dan daun seledri. Variasinya melibatkan tempe kering, serundeng, urap kacang panjang, ikan asin atau lele goreng, dan sebagainya. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng, dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (ikan lele, ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung, bayam atau kacang panjang). Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali.

Lomba merias tumpeng cukup sering dilakukan, khususnya di kota-kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, umtuk memeriahkan Hari Proklamasi Kemerdekaan. Lauk yang disajikan kadang bisa diluar tradisi sesuai dengan tema dan kreativitas peserta.

Rujukan bagian ini · revisi 28696330

Variasi#

Dalam Serat Centhini, yakni semacam kitab ensiklopedia kebudayaan Jawa dari awal abad XIX, disebutkan tidak kurang dari sembilan rupa tumpeng yang perlu disiapkan sebagai sajen dalam pertunjukan wayang kulit dan ruwatan. Aneka tumpeng ini dituliskan pada tembang (pupuh) ke-157 bait 2-3. Disebutkan, antara lain, tumpĕng tutul, tumpĕng lugas, tumpĕng kĕndhit, tumpĕng pucuk lombok bang (tumpeng dengan cabai merah di pucuknya), tumpĕng magana isi janganan (tumpeng megana isi sayuran), tumpĕng magana isi wak ayam (tumpeng megana isi ayam), tumpĕng rajĕg dom-wajane, tumpĕng tigan ing pucuk (dengan telur di pucuknya), dan tumpĕng sĕmbur.

Rujukan bagian ini · revisi 28696330

Sumber dan cakupan

Tumpeng

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia · revisi artikel 2025 · diakses 2026-10-15.

Artikel tentang entitas budaya dalam konteks dokumentasinya; tidak mewakili semua variasi, pelaku, atau semua masa. Bagian uraian dipilih, penanda format dibersihkan.

Kontributor Wikipedia · CC BY-SA 4.0 · Riwayat dan kredit penulis · pemilihan bagian, penyuntingan bahasa, dan pembersihan penanda format merupakan perubahan dari sumber.

Q2746599 — identitas dan asosiasi Wikidata · Kontributor Wikidata · CC0 · revisi 2525916479. Klasifikasi P31 dan asosiasi negara P17; bukan batas budaya, kepemilikan, atau keyakinan semua pelaku. Penjelas tambahan dan rujukan dapat diperiksa pada sumber.

Informasi rilis dan ekspor metadata · Ketentuan penggunaan ulang

Pemeriksaan otomatis identitas, lisensi, sumber revisi, dan kelengkapan; bukan tinjauan ahli. Belum ada tinjauan komunitas atau ahli yang tercatat untuk profil ini. Uraian ini belum mencakup seluruh variasi yang mungkin ada.

Baca metode penyusunan